Jakarta, IAN –
Sering menjadi pertanyaan dalam dinamika politik terkait dinasti,
apakah benar demokrasi tidak menciptakan dinasti?
Mungkinkah dinasti terjadi di dalam tataran monarki saja?
Bukankah dalam praktek demokrasi bapak sebagai Presiden anak sebagai Wali Kota sah dapat dipilih oleh rakyat?
Apapun itu bentuk dari kekuasaan yang diturunkan pada sekumpulan keluarganya meski dalam demokrasi tetapi nyatanya kekuasaan berkutat pada keluarganya, salahnya apa mempersepsikan dinasti politik?
Jika ingin menyangkal bolehlah bukan dinasti politik mendukung satu keluarga dalam kontestasi politik menjadi pejabat pimpinan publik.
Tetapi apa yang dilakukan Fahri Hamzah dengan Partai Geloranya dalam mendukung Gibran di pilkada 2020, mendukung dinasti, atau mendukung yang punya kekuasaan politik?
Politikus Partai Gelora yakni Fahri Hamzah mengatakan “Tidak ada dinasti politik di negara demokrasi. Proses politik di negara demokrasi tak menjamin siapapun untuk menang”.
“Dalam negara demokrasi tidak akan terjadi dinasti politik sebab kekuasaan demokratis tidak diwariskan melalui darah secara turun temurun. Tapi dia dipilih melalui prosesi politik, orang yang masuk prosesi politik itu, belum tentu menang dan belum tentu juga kalah,” kata Fahri dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9) dikutip CNN Indonesia.
Tetapi menjadi pertanyaan sendiri, bukankah di dalam sistem apapun dalam politik jika kekuasaan kepemimpinan Negara di kuasai oleh kerabat adalah praktik dari dinasti politik, terlepas dari demokrasi pilihan rakyat?
Fahri juga berargumen bahwa satu-satunya dinasti politik yang ada di Indonesia saat ini adalah Dinasti Hamengkubowono di Yogyakarta.
Idealnya, menurut Fahri Hamzah dinasti di kesultanan Jogjakarta pun itu hanya sebagai simbol, hanya mendapat jabatan publik setingkat gubernur.
Mantan Wakil Ketua DPR itu Fahri Hamzah juga mengaku telah mengajak debat orang-orang yang menuding Partai Gelora melanggengkan dinasti politik karena mendukung anak dan mantu Presiden Joko Widodo.
Fahri menilai kelompok tersebut tidak paham konsep politik dinasti. Fahri khawatir orang yang tidak sepakat dengan langkah Partai Gelora tersebut bukan mempermasalahkan dinasti politik. Namun mereka hanya membenci Jokowi. (IA-TP/ Red, Dw1)













