Oleh : Muhazi Ramadhan (Ketua Lakpesdam)
Ajang pesta demokrasi akan segera kita rasakan kembali, pergelaran pesta meriah pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa pada 9 Desember 2020 mendatang. Sumbawa sedang mencari sosok pemimpin baru untuk menahkodai Sumbawa menjadi lebih baik. sudah begitu banyak bermunculan slogan-slogan dari pada Bacalon Bupati dan wakil Bupati, dan sudah mulai berkumandang dari semua sudut mata arah angin: dari Media Sosial, media elektronik dan cetak, poster-poster yang bergelimpangan di pojok pertokoan dan jalan, sumbangan beras yang diselipi stiker. Apalagi menghalalkan segala cara hanya untuk agar konstituen dapat memilih mereka.
Dalam mewujudkan Demokrasi yang baik, kontestasi politik yang professional masih tetap terlaksana hingga saat ini yang walaupun sering terjadi penyimpangan oleh para elit politik bertarung hanya untuk menggapai kursi kekuasaan, dan menyisihkan etika (moralitas), hal tersebut terkadang tidak terkontrol sehingga baik pemerintah ataupun birokrasi terjerumus pada lembah dusta Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Dalam sandaran teoritis, Etika politik pembahasanya dibagi menjadi dua konteks yang sesungguhnya saling terkait, yakni konteks individu dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks individu seorang filsuf Imanuel Kant pernah menyindir ada dua binatang terselip didada setiap insan politik: merpati dan ular. Satu sisi, politisi memiliki watak merpati yang lembut dan penuh kemuliaan (dalam memperjuangkan idealisme). Watak merpati inilah yang diharapkan masyarakat dari politisi kita: memperjuangkan idealismenya dengan kelembutan dan penuh kemuliaan., tetapi disisi lain ia juga punya watak ular yang licik dan jahat, serta selalu berupaya untuk memangsa merpati celakanya yang menonjol dari para politisi kita itu “sisi ular” ketimbang “merpati”, walaupun barangkali sifat kasuistis.
Di Amerika pernah ada politikus yang mengatakan enteng saja bahwa janji di waktu kempaye itu satu urusan, sementara tidak mewujudkan atau melupakan janji itu adalah urusan yang lain lagi. Artinya, urusan politik sebelum dan sesudah menang pemilu itu berbeda dan tidak terkait dengan masalah janji. Memang praktik pragmatisime politik dinegeri kita dewasa ini masih terasa menggurita bahkan mungkin semakin menggurita.
Dizaman modern ini dibutuhkan pemimpin yang asktetis dalam artian bahwa pemimpin yang sederhana, tidak berfoya-foya, tanpa mencari imbalan atau riyal pamer (politik citra),dan rela berkorban dan inilah model kepemimpinan yang zuhud dalam perspektif sufisme. Situasi inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini tanpa fakta dan contoh-contoh baik yang nyata kiranya agak kesulitan bagi para elit untuk kemudian mampu mempengaruhi kognitif publik untuk membangun standar etik yang jelas.
Contoh para pemimpin tedahulu terlebih sangat dirindukan pada zaman sekarang ketika melihat fenomena etika elit politik yang tidak sehat dewasa ini, belajar dari sikap kepemimpinan Agus Salim sendiri rumahnya merupakan berupa kontrakan sangat sederhana dan berpindah-pindah. Mahatma Gandhi menanggalkan pakaianya dan menggantinya dengan tenunan sendiri. Dalam islam kita mengenal sosok Umar Bin Khattab yang menjabat sebagai Khalifah, ia lebih “nyaman” dengan kesederhanaan. Semasa menjadi Khalifah, tidur siang beralaskan tikar dan batu bata dibawah pohon kurma, dan ia tidak pernah makan kenyang, demi menjaga perasaan rakyat.
Pemimpin rela menderita dalam perjuangan mereka. Namun, anda mungkin menilainya lain. Anda boleh mengatakan pemimpin tidak harus menderita. Pemimpin harus senang, kaya, dan yang penting berpengaruh. Miskin atau kaya tidak ada artinya manakala ia tidak mampu mengebangkan pengaruh. Gandhi rela bergaya sederhana karna punya maksud untuk mengembangkan pengaruh. Para pemimpin kita terdahulu sederhana dikarnakan kondisinya masih terbatas. Bahkan ada juga yang berargumentasi zaman sekarang menjadi pemimpin harus banyak uang dan kaya, sebab dengan demikian akan mempermudah pengembangan pengaruh. Seorang pemimpin sufi yang berusat di Amerika mengkritik bahwa demokrasi dapat dibelokan menjadi moneycrazy. Uang itu sendiri sangat penting dalam politik. Tapi, sebagaimana seorang politikus mengatakan, uang tanpa kecerdasan tidak akan menang. Kecerdasan saja tanpa uang akan sulit.
Sosok pemimpin yang manakah yang kita inginkan, semua pasti Berharap pemimpin yang akan menahkodai Sumbawa untuk Lima tahun yang akan datang adalah pemimpin yang jujur, adil dan bertaggung jawab serta professional. Tidak hanya mementingkan individu ataupun kelompok tertentu. Keadilan pembangunan khususnya kabupaten sumbawa diperlukan untuk memajukan Sumbawa menjadi daerah yang berdaya saing. Apakah itu bisa terwujud kelak, sepertinya kita harus banyak-banyak berdoa. Wallahualam bishowab.












