Oleh : Hj. Aminah (Aktivis Perempuan Sumbawa)
Pengaruh perempuan dalam era modern seperti sekarang ini memberikan banyak dampak dalam berlangsungnya suatu organisasi ataupun instansi pemerintahan di suatu Negara, akan tetapi sampai sekarang, masih banyak yang memandang rendah peran perempuan dalam memimpin suatu organisasi ataupun Negara.
Pandangan-pandangan yang meremehkan peran perempuan tersebut pada akhirnya menjadikan motivasi para perempuan untuk memperjuangkan hak-haknya agar terlepas dari diskriminasi serta dapat berperan dalam suatu organisasi ataupun instansi.
Peran pemimpin perempuan pun juga dituntut sebagai agent of change ditempat dia memimpin. Menurut Soekanto (1992) agent of change adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Oleh karena itu, peran pemimpin harus memberikan perubahan kearah yang lebih baik guna meningkatkan kualitas dan kuantitas suatu organisasi atau instansi. Salah satu bentuk partisipasi yang demokratis dalam instansi pemerintahan sesuai dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini adalah sosok perempuan diberikan hak untuk memimpin organisasi yang bisa dipilih secara langsung melalui pemilihan umum ataupun jabatan politik. Karena dalam hakikatnya seorang pemimpin harus laki-laki ataupun perempuan karena sejatinya kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi yang dapat dilakukan siapa saja tanpa memandang gender suatu pemimpin.
Pengaruh pemimpin perempuan di organisasi ataupun instansi pemerintahan khususnya di Indonesia sudah menunjukkan prestasi yang patut dibanggakan dalam kancah nasional maupun internasional. Penghargaan atas prestasi yang disabet Kota Surabaya merupakan salah satu hasil dari konsistensi Pemerintah Kota Surabaya dalam hal ini adalah konsistensi pemimpin yaitu Tri Risma Harini, sehingga dapat menghantarkan Kota Surabaya dengan prestasi yang membanggakan, seperti penghargaan local dan nasional yang diterima Kota Surabaya dalam Ayu Rahmi (2015) adalah selama lima tahun (2010-2014) berturut turutin sebanyak 105 penghargaan yang telah diterima, sedangkan dalam kancah internasional Kota Surabaya menyabet penghargaan selama tiga tahun (2011-2013) berturut-turut sebanyak 6 penghargaan dan itu merupakan prestasi yang sangat membanggakan mengingat Kota Surabaya dipimpin oleh seorang perempuan
Namun kenyataannya dalam kepemimpinan perempuan, masih banyak yang memandang perempuan belum mampu menjadi seorang pemimpin karena sifat yang dirasa lemah akan intervensi dari luar maupun tekanan politik, serta dirasa tidak siap dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman jika disandingkan dengan pria dalam memimpin.
Karena di dalam budaya Indonesia, sosok perempuan identik dengan urusan dapur ataupun rumah tangga, sehingga banyak yang menyepelekan peran perempuan dalam memimpin suatu organisasi. Oleh karena itu, di era globalisasi modern seperti sekarang ini dalam memimpin, derajat perempuan dan laki-laki sudah sama, mereka memiliki ciri khas masing-masing dalam memimpin dan juga memberikan banyak pengaruh baik dan perubahan untuk organisasi yang dipimpinnya serta tantangan yang memandang kepemimpinan perempuan sepenuhnya belum maksimal jika dibandingkan dengan kepemimpinan laki-laki, sehingga perlu adanya strategi khusus untuk menampis stereotype bahwa perempuan belum mampu memimpin layaknya laki-laki
Di Kabupaten Sumbawa sendiri khususnya, muncul Sosok figur pemimpin perempuan yang juga ikut berkompetisi dalam Pilkada Sumbawa. yang merupakan langkah awal setelah 3 (tiga) kali Kabupaten sumbawa menggelar Pesta Demokrasi secara Langsung. Dewi Noviany, M.Pd salah seorang perempuan berani ikut bertarung sebagai Calon Wakil Bupati Sumbawa, perempuan yang menurut penulis penuh dengan sederhana dan selalu melihat Semua orang dengan Cinta kasih. Ibu Novi yang memiliki latar belakang pendidik atau sebagai Guru memiliki orientasi jika dirinya diamanahi akan berupaya dengan sekuat tenaga untuk dapat berbuat banyak guna mendorong Hak-hak masyarakat Sumbawa khususnya perempuan yang telah sekian lama terbenam.
Maka dari itu perlu sekiranya hal yang demikian di dukung oleh segenap perempuan Sumbawa, perempuan Sumbawa harus mampu mengambil bagian dalam Pilkada 2020 mendatang, untuk kemudian dapat mendorong lahirnya keadilan. (*)












