Opini : Gaya Kepemimpinan, menentukan kemenangan Dewi Noviany dalam Pilkada Sumbawa

  • Bagikan

Gaya Kepemimpinan, menentukan kemenangan Dewi Noviany dalam Pilkada Sumbawa

Oleh : Hj. Mien (pemerhati gender)

Sebuah Kekhasan gaya kepemimpinan menjadi dasar utama dalam mencapai tujuan, salah satunya yang terjadi pada sosok perempuan tangguh, yang berhasil meraih kemenangan dalam Pilkada Sumbawa tahun 2020 yakni Dewi Noviany, dirinya merupakan Wakil Bupati terpilih berdasarkan hasil Quick count dua lembaga survey yaitu My institut dan OMI berpasangan Dengan Drs. H. Mahmud Abdullah Sebagai Bupati Sumbawa. Dimana pasangan Bupati dan Wakil Bupati yang akrab dipanggil Mo-Novi itu telah mengalahkan 4 (Empat) kontestan Pasangan Calon yang di Dominasi Kaum laki-laki, tentu kemenangan yang di raih bukanlah tanpa sebab hal tersebut terjadi akibat munculnya kepercayaan publik atas kepemimpinan perempuan disumbawa. menurut penulis perempuan lebih demokratik dibanding laki-laki dalam lingkungan organisasi, sedangkan sifat Pria yang cendrung transaksional. Selain itu Dewi Noviany merupakan pemimpin yang dekat dengan bawahan. Dalam Pengambilan keputusan contohnya, wanita yang kerap disapa Novi itu selalu melibatkan bawahan, dan merupakan sosok pemimpin demokratis, bertanggungjawab, komunikasi baik, memiliki sikap partisipasi yang tinggi. Tetap mencari titik keseimbangan antara kehidupan pribadi dan sosial yang dihadapi. Selain itu, Dewi Noviany mampu mencari solusi dalam pembagian tugas kepada para pegawainya. Untuk memberikan pelayanan yang optimal bagi masyarakat.

Saya coba membagi dua tipe kepemimpinan Dewi Noviany. Pertama, Gaya Kepemimpinan transformasional, gaya kepemimpinan ini memiliki pengaruh signifikan positif terhadap pengambilan keputusan dan berpengaruh negatif terhadap gaya pengambilan keputusan avoiden dan ketergantungan. Hasilnya, gaya kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan spontan, Kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu. Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan tanggap kepada pimpinannya, kepemimpinan transformasional sebagai kemampuan untuk memberikan inspirasi dan memotivasi para pengikut untuk mencapai hasil-hasil yang lebih daripada yang direncanakan secara orisinil dan untuk imbalan internal.
Kedua, Gaya kepemimpinan Feminisme Sebab Dewasa Ini sangatlah dibutuhkan etika feminim, sebagai penyeimbang bagi dominasi etika maskulin. Femenisme sudah banyak memaparkan peran moralitas feminim sesungguhnya bersumber pada pengalaman konkrit yang dialami perempuan. Pengalaman konkrit yang dialami oleh perempuan yang membedakan perempuan dengan laki-laki adalah pengalaman sebagai ibu, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak. Pengalaman-pengalaman inilah yang diangkat untuk menjadi etika feminisme untuk mengimbangan etika maskulin. Banyak tokoh dunia perempuan yang menjadi panutan seperti Margareth Teacher di Inggris, Indira Gandhi di India, Cory Aquino di Filipina yang mampu memposisikan dirinya sebagai wanita cerdas dengan tidak melihat dirinya sebagai perempuan yang lemah melainkan kekuatan dan kecerdasan dalam menempatkan diri di rumah, dunia kerja, tempat ibadah, dan lingkungan masyarakat. Peran perempuan kini secara tidak langsung sudah memiliki ekstra posisi yang tidak dapat digantikan oleh kaum laki-laki. Dengan memberi kesempatan dan menyemangati perempuan untuk berperan sebagai pemimpin,pemerintah dan organisasi.

Selain itu Dewi Noviany memiliki kemampuan untuk membujuk, sebab wanita umumnya lebih persuasif bila dibandingkan dengan pria, la cenderung lebih berambisi dibandingkan pria,keberhasilannya dalam membujuk orang lain untuk berkata “ya” akan meningkatkan egonya dan memberinya kepuasan. Meskipun demikian, saat memaksakan kehendaknya, sisi sosial, feminin, dan sifat empatinya tidak akan hilang. Kemudian mampu Membuktikan kritikan yang salah, mereka “belum bermuka tebal”, Dewi Noviany memiliki tingkat kekuatan ego yang lebih rendah dibandingkan pria, artinya mereka masih bisa merasakan rasa sakit akibat penolakan dan kritik. Namun, tingkat keberanian, empat, keluwesan, dan keramahan yang tinggi membuat mereka cepat pulih, belajar dari kesalahan, dan bergerak maju dengan sikap postif “akan saya buktikan”. Selanjutnya memiliki Semangat kerja tim, Dewi Noviany cenderung menerapkan gaya kepemimpinan secara komprehensif saat harus menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Mereka juga lebih fleksibel, penuh pertimbangan, dan membantu stafnya. Bagaimanapun, wanita masih harus banyak belajar dari pria dalam hal ketelitian saat memecahkan masalah dan membuat keputusan. Dewi Noviany memiliki karisma yang kuat, begitu juga pria. Mereka persuasif, percaya diri, serta berkemauan kuat untuk menyelesaikan tugas dan energik. Dewi Noviany Berani mengambil risiko, tidak lagi berada di wilayah yang aman, wanita pemimpin pada dasarnya berani melanggar aturan dan mengambil risiko, sama seperti pria sekaligus memberi perhatian yang sama pada detail. Mereka berspekulasi di luar batas-batas perusahaan, dan tidak sepenuhnya menerima aturan struktural yang ada .

perempuan memiliki sifat-sifat dasar untuk sukses sebagai pemimpin. Mereka cenderung lebih sabar, memiliki empati, dan multitasking. Perempuan juga memiliki bakat untuk menjalin networking dan melakukan negosiasi. Namun ketimbang laki-laki, perempuan cenderung lebih sering menunjukkan sifat-sifat tersebut. Perempuan juga bertanggung jawab dan suka mengatasi tantangan-tantangan dalam pekerjaannya. Salah satu yang utama adalah faktor budaya. Budaya sendiri berarti sebagai hasil tindakan dari manusia. Jika dihubungkan dengan organisasi maka perwujudan dari semangat atau suasana dan kepercayaan yang dilakukan dalam organisasi tersebut. Sejak dahulu, perempuan dan laki-laki telah melakukan pekerjaan yang berbeda. Tugas-tugas yang mereka kerjakan membutuhkan keahlian yang berbeda. Faktor budaya ini juga mempengaruhi bagaimana cara perempuan dan laki-laki bertindak dan berpikir. Faktor budaya ini juga terlihat dalam organisasi. Laki-laki dituntut untuk bersikap tegas dalam memimpin. Tetapi ketika perempuan bersikap tegas, dia kerap disebut agresif. Kebanyakan pemimpin laki-laki juga mementor anak buahnya yang laki-laki. Masih jarang ada pemimpin laki-laki yang mementor wanita. Dari contoh tersebut, terlihat bahwa masalah budaya menjadi faktor utama dalam kemajuan perempuan. (*)



  • Bagikan
error: Upss, Janganlah dicopy bang ;-)