RAJAB AHIRULLAH
(Peneliti Ls Vinus)
Swing voters` adalah perilaku pemilih yang berubah pilihannya dari satu pemilu ke pemilu berikutnya dan itu paling banyak dari kalangan pemuda yang secara solid belum menentukan pilihannya karena masih “mengambang”. Hal inilah yang mempengaruhi sukses tidaknya suatu partai atau kandidat didalam memenangkan pemilu 2024 nantinya. Dari segi jumlah, pemilih terbanyak yakni kalangan berumur 17-31 tahun yang mencapai 60 % dari jumlah seluruh pemilih.
Secara kuantitatif jumlah pemilih dari kalangan Gen Z (pemuda) adalah kalangan yang terbanyak, yakni terdiri dari “Swing Voters” (pemilih yang belum pasti menentukan pilihannya), “Social Influencer” (pemilih yang mempengaruhi lingkungan sekitar) dan “Critical Voters” (pemilih kritis). Anak muda itu masih mencari identitas, haus informasi, emosional dan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya dan biasanya cenderung ekstrim. Kalangan pemuda merupakan pemilik akun media sosial terbanyak yang dinilai efektif untuk parpol berkampanye. Segmen anak muda ini yang menghasilkan “Multiplied Effect” (efek berlipat) sangat cepat. Apabila ada isu politik baik positif apalagi negatif langsung direspon (Yunarto dalam Tasrief (ed.), 2013).
Peran politik pemuda dapat dilihat dari; pertama, partisipasi politik pemuda, sebagai bagian dari sistem politik yakni dalam supra struktur politik dan infra struktur politik. Dalam supra struktur politik, pemuda merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam sistem kenegaraan. Sebagai warga negara setiap pemuda harus memahami tentang hak dan kewajibannya sebagai warga Negara, termasuk melakukan bela Negara. Dalam infra struktur politik, pemuda dapat berkiprah dalam kegiatan partai politik, pada kelompok kepentingan, kelompok penekan maupun kelompok anomalis. Dua bidang inilah arena politik yang dapat digunakan oleh pemuda dalam berpartisipasi.
Kedua, menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, dampaknya dapat dirasakan dan dilihat dari sikap dan perilaku yang santun dalam berpolitik baik secara tatap muka ataupun melalui sosial media. Banyak pihak beranggapan kurang bijak, yang mengatakan bahwa politik itu menghalalkan segala cara. Dalam hitungan yang sangat pendek dan pragmatis mungkin ya. Namun hal tersebut sesungguhnya adalah semu. Oleh karenanya integritas diri merupakan hal yang patut dijaga sebagai perilaku bijaksana dan dewasa.
Ketiga, konstituensi yang meliputi dukungan dan jaringandari sebanyak-banyaknya masyarakat. Baik jaringan tersebut di dapat melalui hubungan personal maupun melalui sosial media atau ruang maya. Menjalin hubungan baik serta membina jaringan yang telah terbangun merupakan pekerjaan yang tidak boleh diabaikan untuk berpartisipasi dalam kampanye pemilu. Bagaimanapun juga, kepercayaan dan upaya untuk mendapatkan kekuasaan dengan cara-cara yang elegan akan memberikan nilai positif.
Partisipasi politik pemuda dapat pula dilakukan dengan berperan serta mengawasi, mengawal setiap proses penyelenggaraan tahapan pemilu agar dapat berjalan secara adil dan jujur. Keterlibatan pemuda dalam berpartisipasi sangat memberikan arti bagi proses penyelenggaraan pemilu dapat berjalan aman damai dan demokratis. Dari pemaparan tersebut, partisipasi politik pemuda dalam pemilu langsung menjadi sangat penting dan strategis oleh karena pemuda sebagai agen perubahan harus dapat mengawal proses transisi demokrasi kearah yang lebih substantif yakni terlaksananya pemilu secara jujur dan adil.
Sikap dan perilaku politik yang dijalankan harus menjunjung tinggi etika dan sopan santun politik sehingga tidak menerapkan praktik-praktik politik yang kotor, menghalalkan segala cara dan menggunakan cara-cara kekerasan atau premanisme politik. Pemuda harus dapat tampil sebagai penjaga demokrasi, menghormati hak dan kewajiban orang lain, menghargai perbedaan pilihan dan tidak terjebak pada pragmatisme politik. Hal tersebut tantangannya bagi generasi Z saat ini.
Agar kiprah, peran dan partisipasi politik gen Z dalam pemilu mendatang dapat diperhitungkan, maka setiap pemuda hendaknya memiliki pertama, komitmen yang kuat, berketeguhan hati dan konsistensi memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita bagi kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara. Tidak terjebak pada sikap yang ambigu, tidak memiliki keteguhan hati dan komitmen bagi idealisme atau ideologi, asas perjuangan dan cita-cita rakyat.
Kesimpulannya, Banyak pemuda yang memiliki kecakapan, kedewasaan dan kebijaksanaan politik yang melebihi orang tua. Banyak orang yang menganggap dirinya senior dan berpengalaman menunjukkan sikap politik yang kekanak-kanakan. Oleh karena politik itu tidak hanya ilmu, tetapi seni untuk berbangsa dan bermasyarakat, seni untuk mendapatkan, menjalankan dan mempertahankan kekuasaan yang dalam implementasinya dibutuhkan rasio dan kehalusan jiwa untuk memainkannya dalam artian diperlukan kecerdasan intelegensia, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Hal inilah sesungguhnya yang akan tercermin ketika para pemuda bijak dan mampu mengendalikan diri dalam menggunakan sosial media.












