SUMBAWA, infoaktualnews.com – Kunjungan reses Anggota Komisi IV DPR RI, H. Johan Rosihan, S.T., ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sumbawa Besar, Senin (26/10), diwarnai momen menarik saat dirinya mencicipi madu trigona hasil kegiatan pembinaan warga binaan di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Ai Maja.
Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk melihat secara langsung pelaksanaan pembinaan di lingkungan pemasyarakatan, khususnya program pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan produktif dan bernilai ekonomi.
Dalam agenda tersebut, Johan Rosihan meninjau SAE Ai Maja, salah satu sarana yang dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembinaan warga binaan. Di lokasi ini, budi daya lebah trigona menjadi salah satu aktivitas produktif yang memberikan ruang bagi warga binaan untuk belajar, berlatih, serta mengembangkan kemampuan dalam mengelola usaha.
Madu Trigona, Hasil Pembinaan yang Bernilai Ekonomi
Suasana kunjungan semakin menarik ketika Johan Rosihan berkesempatan mencicipi langsung madu trigona yang dihasilkan melalui kegiatan budi daya tersebut. Momen ini menjadi gambaran konkret bagaimana program pembinaan dapat diarahkan pada aktivitas yang produktif, sekaligus memberikan pengalaman dan keterampilan praktis bagi warga binaan.
Budi daya lebah trigona tidak hanya berkaitan dengan proses pemeliharaan lebah dan pengambilan hasil madu. Kegiatan ini juga membutuhkan ketelitian, kedisiplinan, kesabaran, serta pemahaman mengenai pengelolaan usaha agar dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.
Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diharapkan memperoleh pengalaman yang dapat dikembangkan menjadi bekal usaha setelah menyelesaikan masa pidana. Dengan demikian, pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan masa hukuman, tetapi juga pada persiapan untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Potensi madu trigona sebagai produk hasil budi daya juga membuka peluang pengembangan kegiatan ekonomi produktif. Apabila dikelola secara berkelanjutan, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan, mulai dari proses produksi hingga pengenalan nilai ekonomi produk.
Johan Rosihan Apresiasi Petugas dan Pelaksanaan Pembinaan
Dalam kesempatan tersebut, Johan Rosihan menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepadanya untuk melihat secara langsung kondisi Lapas Sumbawa Besar beserta berbagai kegiatan pembinaan yang dilaksanakan, termasuk aktivitas produktif di SAE Ai Maja.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran petugas lapas yang selama ini menjalankan tugas pengelolaan pemasyarakatan sekaligus melaksanakan pembinaan bagi warga binaan.
“Saya mengucapkan terima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk melihat langsung Lapas Sumbawa, termasuk kegiatan pembinaan di SAE Ai Maja. Saya mengapresiasi para petugas yang telah bekerja dalam mengelola Lapas Sumbawa. Saya berharap apa yang sudah berjalan baik ini terus ditingkatkan, baik dalam pengelolaan maupun pembinaan warga binaan,” ujar H. Johan Rosihan, S.T.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keberlanjutan program pembinaan agar berbagai kegiatan yang telah berjalan dapat terus dikembangkan. Pembinaan yang terarah diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi warga binaan, terutama dalam membangun keterampilan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas.
SAE Ai Maja Jadi Ruang Belajar dan Pengembangan Keterampilan
Keberadaan Sarana Asimilasi dan Edukasi Ai Maja menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan kegiatan pembinaan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman praktik secara langsung.
Melalui budi daya lebah trigona, warga binaan berkesempatan mempelajari tahapan pemeliharaan, perawatan koloni, hingga pemanfaatan hasil produksi. Pengalaman tersebut dapat menjadi modal awal untuk mengenal peluang usaha berbasis potensi alam yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Namun, keberhasilan program pembinaan tentu tidak hanya ditentukan oleh proses pelatihan selama warga binaan berada di dalam lapas. Dukungan terhadap keberlanjutan keterampilan setelah mereka kembali ke masyarakat juga menjadi aspek penting, termasuk kesempatan memperoleh pendampingan, akses pemasaran, serta penerimaan sosial.
Karena itu, pengembangan kegiatan produktif seperti budi daya lebah trigona perlu dipandang sebagai bagian dari proses pembinaan jangka panjang. Keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman selama menjalani masa pidana, tetapi dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan produktif.
Mendorong Pembinaan yang Produktif dan Berkelanjutan
Kunjungan reses Johan Rosihan ke Lapas Kelas IIA Sumbawa Besar menjadi momentum untuk melihat secara langsung pelaksanaan pembinaan serta potensi kegiatan ekonomi produktif yang dikembangkan bagi warga binaan.
Momen mencicipi madu trigona di SAE Ai Maja memberikan gambaran sederhana tentang hasil dari proses pembelajaran dan keterampilan yang dikembangkan di lingkungan pemasyarakatan. Di balik produk tersebut, terdapat upaya untuk memberikan kesempatan kepada warga binaan agar dapat belajar, berkarya, dan mempersiapkan masa depan.
Ke depan, penguatan pembinaan kemandirian diharapkan dapat terus dilakukan melalui peningkatan kualitas pelatihan, pengembangan produk, serta perluasan peluang usaha yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan warga binaan.
Dengan pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, lapas diharapkan tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk memperbaiki diri, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan reintegrasi sosial.
Melalui kegiatan di SAE Ai Maja, Lapas Sumbawa Besar menunjukkan salah satu bentuk upaya pembinaan berbasis keterampilan produktif. Harapannya, madu trigona yang dihasilkan bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol tumbuhnya harapan bagi warga binaan untuk kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan dan semangat menjalani kehidupan yang lebih baik. (*)











