Politisi Gerindra Soroti Kesiapan Layanan Kesehatan Sumbawa: “Jangan Tunggu Darurat Baru Berbenah”

SUMBAWA, infoaktualnews.com — Kesiapan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa mendapat sorotan serius dari Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Sumbawa sekaligus Ketua PMI Sumbawa, Andi Rusni, S.E., M.M. Sorotan itu mencuat setelah dirinya mengalami langsung proses penanganan seorang peserta gerak jalan yang mengalami sesak napas dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Andi Rusni yang akrab disapa Andis menyampaikan persoalan tersebut dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Sumbawa di Ruang Sidang Utama Lantai II, Jumat (14/8), di hadapan Bupati Sumbawa.

Menurut Andis, persoalan pelayanan kesehatan bukanlah hal baru. Selama ini, kata dia, cukup banyak keluhan masyarakat yang diterima terkait pelayanan di fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas. Namun, sebagian besar keluhan tersebut selama ini hanya muncul melalui media sosial.

Karena itu, ia memilih membawa persoalan tersebut langsung ke forum resmi DPRD agar dapat menjadi bahan evaluasi bersama pemerintah daerah.

«“Sebenarnya banyak sekali informasi yang masuk kepada kami, keluhan-keluhan terhadap institusi kesehatan, baik di rumah sakit maupun di puskesmas,” katanya.»

Pengalaman Langsung Saat Menangani Pasien

Andis kemudian menceritakan pengalamannya ketika turun langsung bersama relawan PMI sebagai Tim Pertolongan Pertama (PP) untuk membantu peserta gerak jalan yang mengalami kelelahan maupun gangguan kesehatan.

Dalam kegiatan tersebut, seorang peserta mengalami sesak napas dan membutuhkan pertolongan medis secepatnya.

«“Saya sebagai Ketua PMI turun langsung membantu menanggulangi korban yang kelelahan maupun yang mengalami gangguan kesehatan bersama tim medis dari Puskesmas Kecamatan Unter Iwes dan Puskesmas Unit II Labuhan Badas. Saat itu ada pasien yang mengalami sesak napas, kemudian saya bawa menggunakan ambulans ke Puskesmas Unit I,” ujarnya.»

Menurut Andis, kondisi sesak napas merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian dan penanganan segera. Atas pertimbangan tersebut, pasien dibawa ke Puskesmas Unit I karena dinilai sebagai fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan lokasi kegiatan di Lapangan Pahlawan Sumbawa Besar.

Namun, sesampainya di fasilitas kesehatan tersebut, Andis mengaku mendapat respons bahwa kapasitas pelayanan sedang penuh.

«“Saat tiba di depan gerbang, ada tenaga medis yang berlari sambil berteriak, ‘Full, full, full.’ Namun, karena pasien sudah saya gendong dari ambulans, saya tidak ingin mengembalikannya lagi. Saya memaksa agar pasien segera ditangani demi keselamatannya,” tuturnya.»

Andis mengatakan, dirinya tetap meminta agar pasien mendapatkan pertolongan. Ia bahkan mengaku sempat meletakkan pasien di lantai karena tidak tersedia tempat tidur.

Menurutnya, setelah itu petugas kemudian memindahkan sejumlah barang dari salah satu tempat tidur yang sebelumnya tidak digunakan untuk menangani pasien tersebut.

«“Kalau saya tidak ngotot, mungkin mereka tidak akan berusaha memindahkan barang-barang yang ada di atas tempat tidur itu. Saya khawatir kondisi pasien bisa menjadi lebih fatal,” katanya.»

Minta Pelayanan Kesehatan Dievaluasi Menyeluruh

Pengalaman tersebut menjadi perhatian serius bagi Andis. Ia menilai kejadian itu perlu dijadikan bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa, terutama dalam menghadapi pasien yang membutuhkan pertolongan segera.

«“Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan salah satu contoh bagaimana kinerja dan sikap pelayanan di berbagai puskesmas, bahkan di beberapa rumah sakit, yang menurut saya masih bermasalah,” tegasnya.»

Andis juga mempertanyakan kesiapan fasilitas kesehatan ketika menghadapi kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak peserta. Menurutnya, kegiatan dengan jumlah peserta besar harus diiringi kesiapan sarana dan prasarana kesehatan, tenaga medis, ambulans, serta sistem penanganan kegawatdaruratan yang jelas.

«“Ini baru kegiatan gerak jalan. Bagaimana kalau terjadi keadaan darurat yang melibatkan banyak korban? Baru lima korban saja kita sudah tidak siap. Buktinya, tempat tidur di puskesmas yang berada di jantung Kota Sumbawa Besar saja tidak tersedia,” ujarnya.»

Jangan Hanya Andalkan Ambulans

Andis menilai penanganan kondisi darurat tidak dapat disamakan dengan pelayanan kesehatan dalam situasi normal. Karena itu, koordinasi antara panitia kegiatan, Dinas Kesehatan, puskesmas, PMI, dan unsur terkait harus dilakukan sejak awal.

Ia mengusulkan agar setiap kegiatan masyarakat berskala besar yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan peserta dilengkapi dengan pos pelayanan kesehatan atau tenda medis, bukan hanya menyediakan ambulans.

«“Di lapangan jangan hanya menempatkan ambulans, tetapi juga harus ada tenda pelayanan kesehatan. Dalam satu ambulans saja saat itu ada tiga pasien. Ini menunjukkan bahwa kesiapan pelayanan kesehatan masih perlu dievaluasi,” katanya.»

Menurut Andis, keberadaan tim medis di lokasi kegiatan sangat penting agar pasien dapat memperoleh pertolongan awal sebelum diputuskan apakah perlu dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.

Dengan sistem tersebut, pasien yang membutuhkan pertolongan tidak harus langsung dimobilisasi ke fasilitas kesehatan terdekat yang kemungkinan sedang penuh.

Dinkes Diminta Siapkan Pelayanan Kesehatan Lapangan

Lebih lanjut, Andis meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa menyiapkan skema pelayanan kesehatan lapangan untuk kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.

«“Setidaknya, jika puskesmas tidak mampu, Dinas Kesehatan harus menyediakan pelayanan kesehatan lapangan, puskesmas lapangan, atau ambulans sehingga pasien tidak perlu dimobilisasi ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.»

Ia menilai, persoalan pelayanan kesehatan harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

Apalagi, kata dia, masyarakat dapat menyaksikan langsung bagaimana proses penanganan pasien di lapangan. Jika pelayanan tidak berjalan sebagaimana mestinya, hal tersebut berpotensi menimbulkan keresahan dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.

«“Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian karena menyangkut pelayanan dasar. Ada masyarakat yang menyaksikan langsung dan bertanya mengapa pasien bisa ditolak. Artinya, pada kegiatan sebesar itu ternyata belum ada kesiapan yang memadai dari institusi kesehatan,” katanya.»

Puskesmas Diminta Diperkuat

Selain peningkatan fasilitas dan kesiapan menghadapi kondisi darurat, Andis juga meminta pemerintah daerah memberikan pembinaan kepada puskesmas yang dinilai masih memiliki kelemahan dalam memberikan pelayanan.

Menurutnya, evaluasi tidak boleh berhenti pada persoalan satu kejadian. Pemerintah daerah perlu melihat secara menyeluruh kapasitas tempat tidur, ketersediaan tenaga kesehatan, kesiapan ambulans, mekanisme rujukan, hingga pola koordinasi antarfasilitas kesehatan.

«“Kami berharap ada pembinaan terhadap puskesmas yang memang masih lemah sehingga pelayanan dasar kepada masyarakat dapat berjalan dengan lebih baik,” pungkasnya.»

Andis menegaskan, kritik yang disampaikannya bukan semata-mata untuk menyalahkan tenaga kesehatan atau fasilitas tertentu. Menurutnya, persoalan tersebut harus dilihat sebagai momentum untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang cepat, tepat, dan manusiawi, khususnya ketika menghadapi kondisi darurat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Puskesmas Unit I maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa terkait pernyataan yang disampaikan Andi Rusni dalam rapat paripurna tersebut. (*)

error: Upss, Janganlah dicopy bang ;-)