InfoaktualNews.com || Mataram, NTB — Menjelang peringatan satu tahun wafatnya Afan Kurniawan (21), pengemudi ojek online yang meninggal dunia pada 28 Agustus 2025 di tengah kericuhan unjuk rasa, Komunitas Himpunan Ojol Lombok (HOL) bersama Komunitas Driver Ojol Cakranegara (DOC) Mataram menyatakan sikap tegas tidak menggelar kegiatan peringatan berlebihan dan tetap menjaga stabilitas keamanan serta ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang kondusif pada Minggu (30/8/2026)
Afan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, meninggal dunia saat sedang dalam perjalanan mengantar pesanan makanan di tengah kericuhan aksi unjuk rasa. Korban terjatuh dan terlindas mobil rantis Brimob Polda Metro Jaya. Tujuh anggota Polri di dalam kendaraan tersebut telah diproses Propam dan dijatuhi sanksi pemecatan serta demosi melalui Putusan Sidang Etik Polri.
Pihak keluarga almarhum secara khusus meminta kepada rekan-rekan pengemudi ojol maupun masyarakat luas agar tidak mengadakan peringatan atau kegiatan berlebihan. Keluarga hanya menggelar pengajian dan doa bersama secara sederhana di masjid terdekat, serta meminta publik cukup mengirimkan doa tanpa menyebarkan konten atau atribut yang mengatasnamakan almarhum demi menjaga ketenangan bersama.
Ketua Himpunan Ojol Lombok (HOL) yang juga Ketua DOC Mataram, Agus West, menyampaikan bahwa komunitasnya tidak mengikuti instruksi atau pergerakan apa pun terkait peringatan ini:
“Tidak ada instruksi atau pergerakan dari teman-teman Ojol Nusantara. Kami di NTB tidak ingin memperkeruh situasi yang bisa dimanfaatkan pihak-pihak berkepentingan. Saat ini kami fokus mencari rezeki dan menyalurkan donasi untuk korban Gempa NTT.” tandasnya
Agus juga menjelaskan bahwa permasalahan pengemudi ojol di Kota Mataram umumnya telah ditangani dengan baik, tarif R2 sudah disesuaikan aturan, meski di lapangan belum sepenuhnya maksimal, sedangkan R4 masih menunggu keputusan aplikator pusat. Dengan keanggotaan sekitar 95 orang di HOL dan 200 orang di DOC Mataram, ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian pada nasib komunitas dengan semboyan “Salam Satu Aspal”.
Komunitas HOL maupun DOC Mataram secara aktif melakukan himbauan di media sosial agar para pengemudi tidak mudah terprovokasi oleh ajakan oknum atau kelompok tertentu, baik melalui pamflet maupun ajakan langsung untuk melakukan aksi unjuk rasa yang anti-pemerintah.
“Kami tidak melaksanakan kegiatan khusus peringatan. Pertimbangannya, kegiatan seperti itu mudah disusupi pihak yang tidak bertanggung jawab dan dapat mengganggu Kamtibmas di wilayah NTB. Kami memilih menjaga situasi tetap kondusif,” tutup Agus West.
Laporan : Riyan











