SUMBAWA, INFOAKTUALNEWS.COM – Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa berlangsung meriah dan penuh pesan kemanusiaan. Melalui kegiatan edukasi, diskusi, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, RSUD Sumbawa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan empati, kepekaan, serta kepedulian terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa.
Kegiatan yang diselenggarakan Ruang Jiwa RSUD Sumbawa tersebut berlangsung pada Selasa (13/10), bertempat di Aula Ruang Jiwa Sering. Peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh dan membutuhkan perhatian bersama.
Mengusung tema “Pengalaman Nyata Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata”, kegiatan ini menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi pasien dan keluarga untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, serta tantangan yang mereka hadapi selama menjalani proses pemulihan.
Pesan utama yang digaungkan dalam peringatan tersebut adalah bahwa orang dengan gangguan kesehatan jiwa membutuhkan lebih dari sekadar pengobatan medis. Mereka juga memerlukan dukungan emosional, penerimaan sosial, serta lingkungan yang aman dan bebas dari stigma maupun diskriminasi.
Melalui pendekatan yang lebih manusiawi, RSUD Sumbawa mendorong terciptanya pelayanan kesehatan jiwa yang tidak hanya berorientasi pada penanganan penyakit, tetapi juga menghormati martabat, hak, dan pengalaman setiap pasien.
Perkuat Sinergi Rumah Sakit dan Puskesmas
Rangkaian kegiatan tersebut diisi dengan diskusi meja bundar atau round table discussion yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di bidang kesehatan dan pelayanan sosial di Kabupaten Sumbawa.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarif Hidayat, SKM.; Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa, Drs. Iwan Sofyan; Direktur RSUD Sumbawa, dr. Mega Harta, MPH.; jajaran pejabat RSUD Sumbawa; serta para penanggung jawab program kesehatan jiwa dari seluruh puskesmas se-Kabupaten Sumbawa.
Keterlibatan lintas sektor ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem pelayanan kesehatan jiwa yang lebih terintegrasi, mulai dari tingkat pelayanan kesehatan dasar hingga rumah sakit.
Ketua Panitia Pelaksana, H. Kusmanto, S.Kep., Ns., M.M.Inov., menjelaskan bahwa tema yang diangkat merupakan wujud komitmen untuk mendorong pelayanan kesehatan jiwa yang lebih inklusif, berorientasi pada pasien, serta mengedepankan penghormatan terhadap hak-hak mereka.
Menurutnya, pengalaman pasien dan keluarga perlu menjadi bagian penting dalam proses pelayanan. Dengan mendengarkan secara terbuka, tenaga kesehatan dapat memahami kebutuhan pasien secara lebih menyeluruh dan memberikan pendampingan yang sesuai.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam menghadapi kegawatdaruratan fisik maupun psikis.
Selain itu, forum tersebut diharapkan mampu memperkuat koordinasi dan komunikasi antara rumah sakit dengan puskesmas dalam penanganan kasus kesehatan jiwa, sehingga pasien dapat memperoleh pelayanan yang tepat, berkesinambungan, dan bermartabat.
Direktur RSUD Sumbawa Ajak Masyarakat Hilangkan Stigma
Direktur RSUD Sumbawa, dr. Mega Harta, MPH., menyambut baik pelaksanaan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tersebut. Ia menilai, upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan jiwa harus terus dilakukan, terutama untuk mengatasi stigma negatif yang masih melekat terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa.
Menurutnya, stigma dapat menjadi penghalang bagi pasien dan keluarga untuk mencari pertolongan profesional. Karena itu, edukasi yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakat memahami bahwa gangguan kesehatan jiwa perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang tepat.
Mega juga mengajak tenaga kesehatan di puskesmas untuk lebih aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat, sekaligus mendorong keluarga agar tidak merasa takut atau malu ketika menghadapi anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.
“Kami berharap teman-teman dari puskesmas menyampaikan kepada masyarakat bahwa apabila ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan jiwa, jangan ragu untuk membawanya berobat ke Ruang Jiwa RSUD Sumbawa,” ujarnya.
Ajakan tersebut menjadi penegasan bahwa dukungan keluarga dan akses terhadap pelayanan profesional merupakan bagian penting dalam proses penanganan dan pemulihan pasien.
Ia juga berharap masyarakat dapat mengubah cara pandang terhadap gangguan kesehatan jiwa, dari yang sebelumnya dipenuhi prasangka menjadi sikap yang lebih terbuka, peduli, dan berorientasi pada dukungan.
Tingkatkan Kompetensi Penanganan Pasien
Dalam kegiatan tersebut, dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD Sumbawa, dr. Jackson Bomba, memaparkan fasilitas pelayanan di Ruang Perawatan Jiwa RSUD Sumbawa yang memiliki kapasitas 25 tempat tidur.
Ia menyampaikan bahwa layanan tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Sumbawa, tetapi juga menerima pasien dari luar daerah, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain pemaparan mengenai fasilitas pelayanan, dr. Jackson juga menyampaikan materi tentang identifikasi dan pembedaan kondisi psikotik secara klinis pada pasien di fasilitas kesehatan. Materi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan dalam mengenali kondisi pasien dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Sementara itu, dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Komang Triana Arya, M.Biomed., Sp.KJ., membahas identifikasi kondisi nonpsikotik.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa gangguan kesehatan jiwa dapat dialami oleh siapa saja dan dipengaruhi oleh beragam faktor, baik kondisi fisik, psikologis, sosial, maupun ekonomi.
Oleh karena itu, penanganan kesehatan jiwa memerlukan pendekatan yang menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Materi berikutnya disampaikan perawat jiwa Coni Fransiska Natalia, yang memaparkan penilaian kondisi pasien menggunakan instrumen Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS), sebagai bagian dari penilaian gejala pada gangguan psikotik.
Adapun H. Kusmanto, selaku Kepala Ruangan Jiwa RSUD Sumbawa, menyampaikan materi mengenai respons awal terhadap kegawatdaruratan fisik yang dapat menyertai kondisi gangguan jiwa.
Rangkaian materi tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan tenaga kesehatan dalam melakukan identifikasi, penilaian awal, serta koordinasi penanganan pasien sesuai kebutuhan klinis.
Membangun Lingkungan yang Ramah Kesehatan Jiwa
Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026 ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap kesehatan jiwa bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, melainkan juga membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, lembaga pelayanan kesehatan, dan pemerintah daerah.
Sikap sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan emosional, menghargai pengalaman pasien, serta membantu keluarga mengakses pelayanan profesional dapat menjadi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah terhadap kesehatan jiwa.
Sebaliknya, stigma, ejekan, pengucilan, dan perlakuan diskriminatif dapat menambah beban yang dihadapi pasien maupun keluarganya.
Karena itu, edukasi kesehatan jiwa perlu terus diperluas agar masyarakat semakin memahami pentingnya pertolongan profesional dan tidak menjadikan gangguan kesehatan jiwa sebagai alasan untuk merendahkan atau mengucilkan seseorang.
Melalui momentum ini, RSUD Sumbawa berharap sinergi antara rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat semakin kuat dalam mewujudkan pelayanan kesehatan jiwa yang mudah diakses, berkesinambungan, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab, pemulihan tidak hanya membutuhkan penanganan medis, tetapi juga kepedulian, penerimaan, dan kesempatan untuk didengar. Pasien kesehatan jiwa berhak mendapatkan pelayanan yang layak, dihormati martabatnya, serta didukung untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
(*)











