INFOAKTUALNEWS.COM,BANDUNG_Kopi, salah satu komoditi bahan minuman yang paling banyak digemari ini berkembang di Jawa Barat, bahkan nongkrong sambil ngopi sudah menjadi life style.
Namun tahukah ? Ikhwal bangkitnya kejayaan kopi arabika di Jawa Barat khususnya, bersumber dari kawasan hutan Perhutani KPH Bandung Selatan.
Administratur Perhutani KPH Bandung Selatan Lily Kurnia Asih melalui KSS Komunikasi Perusahaan Ujang Halimudin mengatakan penamanan kopi arabika dikawasan hutan KLH Bandung Selatan bermula dari uji coba beberapa tanaman jenis agroforestry di awal tahun 2000 an.
” Paska reformasi tahun 2000 kami mencoba menanam tanaman murbei untuk pakan ulat sutra, buah bendot, rumput gajah, terong kori,kopi dan jeruk. Tapi dari tahun 2007 sampai saat ini kopi yang paling berkembang, ” ujar Ujang Halimudin yang akrab disapa Uje, kepada wartawan, di Bandung, Senin (25/05/2026).
Terdapat berbagai jenis varietas kopi yang ditanam, diantaranya varietas Lini S, Sigala Rutang, Timtim dan lain-lain.
Perkembangan kopi tersebut rupanya memantik perhatian, unit kerja Perhutani di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
” Dari kopi Perhutani KPH Bandung Selatan banyak dikunjungi untuk studi banding dari KPH-KPH lainnya di pulau Jawa. Dan Alhamdullilah untuk KPH diJawa Barat sendiri kopi sudah dibudi dayakan. Seperti di Ciamis, Garut dan daerah lainnya,” jelas Uje.
Dari kawasan hutan seluas 55 ribu hektar lebih yang dikelola Perhutani KPH Bandung Selatan, budidaya kopi dilalikan diatas lahan kurang lebih seluas 3.200 hektar dengan masyarakat sekitar hutan yang tergabung di 111 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Menurut Uje budidaya kopi ampuh meningkatkan tiga aspek sekaligus mulai dari ekologi, ekonomi dan sosial.
Efeknya jelas bermanfaat sosial memiliki nilai konservasi karena kopi itu berakar tunggang cocok buat nahan erosi dan yang penting berhasil.menggerakan ekonomi masyarakat desa hutan, ” tuturnya.
Disebutkan dia, terkait ekonomi masyarakat dari kopi perputaran uangnya mencapai puluhan miliar per musim.
” Ada fluktuasi harga tapi diperkirakan perputaran uang permusim saat ini sekitar 70 miliar. Itu dihitung dari harga rata rata panen kopi ceri arabika gelondongan dengan harga 15 ribu per kilogramnya, ” jelasnya.
Perputaran uang tersebut bisa bertambah seiring meningkatnya pengetahuan petani dalam pengolahan kopi.
Kini tidak sedikit petani yang menjual kopi tidak lagi gelondongan, tapi dijual dalam bentuk biji kopi yang telah dijemur (greenbean) dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding gelondongan.
Kejayaan kopi arabika di perhutani Bandung Selatan makin berkibar karena dikenal citarasa dan kualitasnya. Terutama yang berasal dari wilayah Ciwidey, Pangalengan , Banjaran,Ciparay dan Gujung Halu.
Dikutip dari bappeda.jabarprov.go.id kopi yang dikembangkan di Malabar, Pangalengan berhasil menjadi juara satu dalam festival kopi dunia yang diselenggarakan di Atlanta, Amerika Serikat, beberapa waktu silam.
Sekedar informasi Jawa Barat memiliki sebutan Java Preanger untuk penanaman kopi yang sangat legendaris yang berjaya karena diminati pasar Eropa sejak abad ke-17 lantaran kualitas dan aromanya yang khas.
Kopi tersebut dihasilkan pada masa penjajahan Belanda, dimana VOC memberlakukan sistem tanam paksa khusus kopi (Preangerstelsel) di wilayah pegunungan seperti Malabar, Puntang, dan wilayah Priangan lainnya.
Tentunya sebagai korps kehutanan dengan status BUMN Perhutani memiliki peluang yang sangat terbuka untuk meningkatkan pendapatan dari kopi.
” Kami yakin perusahaan juga berupaya bagaimana peluang dari agroforestry kopi ini bisa dikelola lebih baik lagi dalam rangka meningkatkan pendapatan, ” pungkasnya.(***)












