Tragedi Pasca‑Operasi Katarak Salma Warga Sakra Timur: Harapan Sembuh Berakhir Duka, Bung Yuza Desak Dirut RSLT Bertanggung Jawab

InfoaktialNews.com || Lombok Timur, NTB– Harapan Salma, warga Desa Surabaya Lepak Kecamatan Sakra Timur untuk pulih dari gangguan mata usai menjalani operasi katarak di RSUD Lombok Timur justru berubah menjadi duka mendalam. Pasien yang dioperasi pada Jumat pagi (30/10/2026) bukannya membaik, melainkan mengalami kondisi yang makin memburuk hingga dikabarkan dinyatakan buta permanen setelah diperiksa di RSUP Provinsi NTB.

Berdasarkan keluhan yang diterima redaksi, Salma menjalani tindakan operasi katarak di RSUD Lombok Timur pada Jumat pagi. Tak lama setelah tindakan tersebut, mata pasien mengalami infeksi parah dan terus mengeluarkan darah sehingga penglihatannya makin memudar. Melihat kondisi yang kritis, pihak keluarga meminta Salma segera dirujuk ke RSUP Provinsi NTB pada Sabtu (31/10/2026) untuk penanganan lebih lanjut.

Di RSUP Provinsi NTB, hasil pemeriksaan dikabarkan menyatakan mata Salma telah mengalami kebutaan permanen. Peristiwa ini pun menimbulkan pertanyaan besar di kalangan keluarga dan masyarakat: apa yang sebenarnya terjadi selama serta pasca tindakan di RSUD Lombok Timur? Mengapa infeksi baru terdeteksi hingga mencapai tahap yang begitu parah? Di mana pengawasan medis yang seharusnya menjaga keselamatan pasien?

Menanggapi hal tersebut, Aktivis sekaligus Pengamat Kebijakan Publik Lombok Timur Adv. Yustia Mukmin, S.H., yang akrab disapa Bung Yuza menyatakan bahwa tragedi Salma menjadi cerminan buruknya mekanisme penanganan medis serta manajemen yang berjalan di RSUD Lombok Timur di bawah kepemimpinan Dirut dr. H. Lalu Opan Hendardi. Ia menilai kasus Salma bukan sekadar insiden tunggal, melainkan bagian dari keluhan‑keluhan masyarakat yang selama ini mengarah pada lemahnya pelayanan.

“Kami mengecam keras mekanisme penanganan operasi serta pengawasan pasca‑operasi yang diduga lemah di RSUD Lombok Timur. Bagaimana mungkin harapan sembuh justru berakhir buta permanen? Ini menjadi pertanda serius bahwa kinerja kepemimpinan dr. H. Lalu Opan Hendardi perlu dievaluasi secara mendalam,” tegas Bung Yuza.

Bung Yuza mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, Komite Medik RSUD Lombok Timur serta BPJS Kesehatan segera membuka audit transparan terhadap seluruh kronologi penanganan Salma. Ia juga meminta pihak rumah sakit memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab infeksi, alasan keterlambatan rujukan, serta siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan pasien.

kami akan segera bersurat kepada komisi III DPR RI untuk segera menindaklajuti permasalahan ini, sebab ini nyawa manusia bukan nyawa binatang, dari RSPK hingga RSLT tingkat kematian pasien sangat banyak di bawah kepemimpinan opan, ini bukti bahwa opan gagal menjalakan tupoksinya sebagai direktur.

“Masyarakat Sakra Timur telah berharap besar kepada RSUD Lombok Timur. Namun kenyataannya banyak keluhan terkait pelayanan yang lambat dan kurang serius. Kami minta Bupati Lombok Timur segera turun tangan mengevaluasi kinerja Dirut dr. H. Lalu Opan Hendardi agar tidak ada lagi korban serupa,” lanjut Bung Yuza.

Sementara itu keluarga Salma menyatakan sangat terpukul. Mereka berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur beserta pimpinan RSUD Lombok Timur mau bertanggung jawab atas peristiwa yang dialami Salma.

“Sekarang keluarga sangat terpukul. Yang diharapkan sembuh malah berakhir buta permanen. Kami ingin tahu siapa yang bertanggung jawab,” ujar salah satu kerabat Salma yang enggan disebut namanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD Lombok Timur maupun dr. H. Lalu Opan Hendardi belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus tersebut. Masyarakat berharap proses investigasi berjalan transparan dan tidak ada upaya penutupan fakta.

laporan : Riyan

error: Upss, Janganlah dicopy bang ;-)