Sumbawa, infoaktualnews.com – Suasana malam ke-17 Ramadan 1447 Hijriah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sumbawa Besar terasa begitu khidmat dan penuh makna. Dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur’an, jajaran petugas Lapas bersama para warga binaan pemasyarakatan (WBP) menggelar kegiatan tadarus dan khataman Al-Qur’an yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan. (6/3).
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan Lapas tersebut menjadi momen spiritual yang sangat berarti, tidak hanya bagi warga binaan, tetapi juga bagi seluruh petugas yang ikut terlibat. Malam Nuzulul Qur’an yang merupakan peringatan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkuat iman, memperdalam pemahaman agama, sekaligus memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Pada momen istimewa ini, warga binaan bersama petugas Lapas berhasil menuntaskan khataman Al-Qur’an yang kelima selama bulan suci Ramadan. Pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa pembinaan keagamaan di Lapas Sumbawa Besar terus berjalan aktif dan memberikan dampak positif bagi para warga binaan.
Kalapas Sumbawa Besar, Purniawal, menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan seperti tadarus dan khataman Al-Qur’an merupakan bagian penting dari proses pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan. Menurutnya, Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak ibadah serta meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT.
“Peringatan Nuzulul Qur’an ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Kami berharap para warga binaan dapat menjadikan momen ini untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperdalam ilmu keagamaan,” ujar Kalapas.
Ia juga menegaskan bahwa Lapas tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani masa pidana, tetapi juga sebagai tempat pembinaan agar para warga binaan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, berakhlak, dan memiliki nilai-nilai spiritual yang kuat.
Suasana malam Nuzulul Qur’an di Lapas Sumbawa Besar pun terasa penuh haru dan ketenangan. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema dari dalam ruang ibadah, menciptakan atmosfer religius yang menyentuh hati. Para warga binaan terlihat khusyuk mengikuti setiap rangkaian kegiatan, mulai dari tadarus hingga doa bersama.
Bagi sebagian warga binaan, kegiatan ini menjadi pengalaman spiritual yang sangat berharga. Ramadan menghadirkan kesempatan untuk merenung, memohon ampunan, serta memperbaiki diri agar kelak dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih baik bersama keluarga dan masyarakat.
Program pembinaan keagamaan di Lapas Sumbawa Besar sendiri terus digiatkan sepanjang bulan Ramadan. Selain tadarus Al-Qur’an, berbagai kegiatan keagamaan lainnya juga dilaksanakan seperti ceramah agama, kajian Islam, serta shalat tarawih berjamaah yang rutin diikuti oleh warga binaan dan petugas.
Kegiatan ini sejalan dengan semangat Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mengusung komitmen untuk memberikan pembinaan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan semangat “Bergerak PRIMA, Pelayanan Luar Biasa”, jajaran pemasyarakatan terus berupaya menghadirkan layanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga humanis.
Melalui pembinaan spiritual seperti ini, diharapkan warga binaan dapat memperoleh bekal moral dan keimanan yang kuat. Ketika masa pembinaan berakhir, mereka diharapkan mampu kembali ke masyarakat sebagai individu yang lebih baik, produktif, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Momentum Nuzulul Qur’an di Lapas Sumbawa Besar menjadi bukti bahwa cahaya Al-Qur’an mampu menyentuh siapa saja, di mana saja, bahkan di balik tembok penjara sekalipun. Dengan iman, harapan, dan tekad untuk berubah, Ramadan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna. (*)












