SUMBAWA, infoaktualnews.com – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) PCNU Sumbawa sukses menyelenggarakan kegiatan Eco-Sufism Training for Students bertajuk “Napas Bumi, Zikir Akar: Sedekah Hijau untuk Masa Depan”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada Sabtu–Minggu, 27–28 Juni 2026 ini bertempat di SMAN 4 Sumbawa Besar.
Program strategis ini terselenggara berkat dukungan penuh dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui program nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai spiritual (sufisme) kepada generasi muda di Kabupaten Sumbawa.
Pembukaan Spektakuler dan Komitmen Lintas Sektor Acara dimulai pada Sabtu sore (27/6) dengan penampilan atraksi seni bela diri yang memukau dari Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Cabang Sumbawa. Selain itu, nuansa spiritual langsung terasa khidmat dengan pembacaan Tawassul dan Barzanji.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Sekolah SMAN 4 Sumbawa Besar, Supriyadi, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dipilihnya SMAN 4 Sumbawa sebagai pusat pelaksanaan kegiatan kepemudaan yang inovatif dan berwawasan lingkungan ini.
Ketua LAKPESDAM PCNU Sumbawa, Muhazi Ramadhan, juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pendekatan spiritualitas agama dengan aksi nyata pelestarian alam.
”Melalui Eco-Sufism, kita ingin melatih para pelajar agar tidak hanya melihat menanam pohon sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai bentuk ibadah, zikir, dan sedekah jariyah kepada bumi yang menghidupi kita,” ujar Muhazi.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan instansi pendidikan. KC Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Wilayah IV, Dikbud Kabupaten Sumbawa, Pembukaan acara diakhiri dengan aksi Penanaman Pohon Simbolis oleh para tokoh yang hadir di area sekolah.
Selama dua hari intensif, para peserta tidak hanya dibekali dengan teori ekologi, tetapi juga ditempa secara spiritual melalui rangkaian ibadah kolektif seperti pembacaan Hizib, Ratib Samman, Qiyamul Lail (sholat tahajud), dan pembiasaan sholat Dhuha.
Materi pelatihan dikemas secara holistik melalui 5 sesi utama yang dipandu oleh para pakar dan praktisi kompeten:
Sesi 1: Pengantar Eko-Sufisme: Alam sebagai Tajalli Tuhan – Hendra Gunawan, M.Pd. (Akademisi Universitas Teknologi Sumbawa) membedah bagaimana memandang alam semesta sebagai cerminan keagungan pencipta yang wajib dijaga.
Sesi 2. Etika Lingkungan dalam Islam: Peran Manusia sebagai Khalifah – Syukri Rahmat, S.Ag., M.M.Inov. (Ketua BAZNAS Sumbawa) menguraikan tanggung jawab kepemimpinan manusia di bumi (khalifah fil ardh).
Sesi 3. Potret Krisis Ekologi Global dan Lokal – Rahmawati (Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Sumbawa) memberikan paparan data ilmiah faktual mengenai tantangan dan kerusakan lingkungan hidup yang tengah dihadapi Sumbawa saat ini.
Sesi 4. hubungan manusia dengan alam – Aulia Ahmad Rasyadi memberikan paparan tentang peran manusia sebagai penyeimbang antar manusia Tuhan dan Alamat
Sesi 5: Workshop & Focus Group Discussion (FGD) – Peserta diajak merumuskan langsung Rencana Aksi Ekologis yang taktis dan dapat diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing.
Aksi Nyata: Gerakan Zero-Waste dan Penobatan “Duta Ekosufisme”
Pelatihan ini menolak sekadar menjadi ruang diskusi. Implementasi langsung dilakukan melalui praktik Zero-Waste Ishoma, di mana para peserta dilatih untuk mengonsumsi makanan tanpa menyisakan sampah makanan sedikit pun, sebagai wujud nyata dari sifat Qana’ah (merasa cukup dan bersyukur).
Puncak aksi luar ruangan ditandai dengan gerakan “Tree of Life”, di mana seluruh peserta turun langsung melakukan penanaman pohon secara massal dengan niat ibadah dan sedekah jariyah untuk masa depan lingkungan Sumbawa.
Sebelum ditutup secara resmi pada Minggu sore (28/6), LAKPESDAM PCNU Sumbawa menginisiasi pembentukan Duta Ekosufisme di kalangan pelajar.
Para duta terpilih ini berkomitmen menjadi motor penggerak kampanye pelestarian lingkungan hidup dan gaya hidup hijau berbasis nilai keagamaan di lingkungan sekolah dan komunitas mereka. Acara diakhiri dengan doa bersama dan tradisi bersalam-salaman (musafahah). (*)












