Sumbawa, INFOAKTUALNEWS.COM, – Komitmen besar menuju masa depan Sumbawa yang lebih hijau, berbudaya, dan berkelanjutan kian diperkuat. Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., menerima audiensi sekaligus diskusi strategis bersama LINGKARA (Lembaga Peduli Budaya Sosial dan Ekologi) di ruang rapat Bupati Sumbawa, Senin (11/05) dalam sebuah pertemuan yang dinilai publik sebagai langkah penting menyatukan kekuatan pemerintah dan masyarakat sipil demi menjawab tantangan lingkungan masa depan.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi kelembagaan, tetapi menjelma sebagai forum pemikiran besar tentang bagaimana Sumbawa harus bergerak lebih cepat dalam merespons perubahan iklim, ancaman kerusakan lingkungan, serta kebutuhan membangun kesadaran kolektif masyarakat melalui pendekatan budaya, pendidikan, dan ekonomi hijau.
Turut hadir dalam diskusi itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, S.Si., M.Si., bersama jajaran anggota LINGKARA, menandai bahwa pembahasan ini berada dalam koridor serius pembangunan daerah dan perencanaan strategis jangka panjang.
Bupati Syarafuddin Jarot dalam kesempatan tersebut menegaskan harapannya agar kehadiran LINGKARA dapat terus melahirkan berbagai program yang benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Menurutnya, pembangunan Sumbawa tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus diperkuat oleh pembangunan kesadaran ekologis dan sosial yang mampu menjaga warisan lingkungan untuk generasi mendatang.
“Pemerintah daerah tentu menyambut baik lahirnya berbagai inisiatif positif dari elemen masyarakat seperti LINGKARA. Harapan kita, program-program yang sudah berjalan bukan hanya bertahan, tetapi berkembang lebih besar, lebih kuat, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Bupati Jarot, menegaskan dukungannya terhadap gerakan kolaboratif tersebut.
Pernyataan Bupati ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa membuka ruang luas bagi sinergi multipihak dalam mewujudkan agenda pembangunan hijau yang bukan sekadar slogan, tetapi menjadi gerakan nyata.
Sementara itu, Ketua LINGKARA, Devira Bunga Ayudya, menjelaskan bahwa audiensi ini secara khusus bertujuan untuk menyelaraskan program-program unggulan LINGKARA dengan arah besar Festival Sumbawa Hijau, sebuah momentum penting yang diharapkan menjadi simbol kebangkitan kesadaran lingkungan di Tanah Samawa.
Menurut Devira, LINGKARA hadir bukan hanya sebagai lembaga sosial biasa, tetapi sebagai wadah transformasi yang menggabungkan kepedulian budaya, sosial, dan ekologi dalam satu gerakan berkelanjutan.
LINGKARA sendiri saat ini memiliki empat program utama, yakni Eschalator, Program Sekolah Hijau, Mangrove Field School, dan Impact Green Movement. Namun dari keseluruhan agenda tersebut, fokus utama saat ini diarahkan pada penguatan Impact Green Movement, sebuah program strategis yang dinilai paling relevan dalam menjawab tantangan zaman.
“Impact Green Movement adalah gerakan kolaboratif yang kami bangun untuk mendorong transformasi lingkungan, pendidikan, dan ekonomi hijau berbasis partisipasi masyarakat. Tujuannya adalah menciptakan keberlanjutan nyata di Sumbawa,” terang Devira.
Program ini lahir dari kesadaran atas meningkatnya ancaman perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan perlunya gerakan terstruktur yang melibatkan masyarakat sebagai aktor utama perubahan. Bukan hanya soal menjaga alam, tetapi juga bagaimana lingkungan yang sehat dapat menjadi fondasi pendidikan yang kuat dan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Dalam perspektif yang lebih luas, langkah LINGKARA dinilai sejalan dengan kebutuhan global saat ini, di mana daerah-daerah dituntut tidak hanya mengejar pembangunan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekologis. Sumbawa, dengan kekayaan alam, budaya, dan potensi masyarakatnya, dinilai memiliki peluang besar menjadi model pembangunan hijau di Nusa Tenggara Barat bahkan Indonesia.
Diskusi antara Bupati dan LINGKARA ini pun menjadi penanda bahwa Festival Sumbawa Hijau bukan sekadar agenda seremonial, melainkan berpotensi menjadi gerakan perubahan sosial yang lebih besar—membangun kesadaran publik, memperkuat pendidikan lingkungan, melestarikan ekosistem, hingga menciptakan ekonomi berbasis keberlanjutan.
Sinergi pemerintah dan LINGKARA juga dipandang sebagai contoh penting bahwa tantangan lingkungan tidak bisa dihadapi sendiri oleh pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif komunitas, generasi muda, dunia pendidikan, dan seluruh lapisan masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, publik kini menaruh harapan besar agar Sumbawa benar-benar mampu menjelma sebagai daerah yang tidak hanya maju secara pembangunan, tetapi juga menjadi simbol harmoni antara manusia, budaya, dan alam.
Jika langkah besar ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Sumbawa akan dikenal bukan hanya karena kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga karena keberhasilannya membangun peradaban hijau yang berpihak pada masa depan. (*)












