PURBAYA VERSI LOTIM: Pergantian direktur RSUD Soedjono Selong dadakan melalui telepon

InfoaktualNews.com || LOMBOK TIMUR — Pergantian direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong menyisakan ironi. Sejumlah tenaga kesehatan mengungkapkan kesedihan atas pergantian dr. H. Anjasmoro, Sp.Rad, sementara penunjukan dr. H. Lalu Ofan Hendardi, M.Kes, justru memantik pertanyaan tentang rekam jejak dan pertimbangan di balik keputusan tersebut.

Kabar pergantian Anjasmoro disebut diterimanya saat masih menjalankan tugas sebagai Plt direktur. Jika benar demikian, cara pergantian tersebut patut dipertanyakan dari sisi komunikasi dan etika birokrasi.

SELONG BERDUKA, MEDIA SOSIAL BERGEMURUH.

Kekecewaan sejumlah tenaga kesehatan tumpah di media sosial. Winartha Meyda menulis, “Purbaya diganti buaya.” Sopiana berkomentar, “Pak dir terbaik, Ikut sedih pak dir di ganti.” Nia_Lr menulis, “terbaik dr. Anjas, doa orang terzolimi pasti diijabah,,,, sabaaar”, sedangkan Maelani Purwa menyebut, “sejarah mencatat RS Soedjono pernah ada direktur terbaik”.

Baiq Rozia Fanyani mengungkapkan keterkejutannya, “Konohaaa ohh konohaa kenapa sesadis ini siihh, Gak ada lagi yg kasi kami semangat kerja dengan pantun pantun beliau”. Di TikTok, ClaraAuliaRafani menulis, “Terimakasih dedikasinya selama ini Pak Dir terbaik kami. Pak Dir akn selalu ada di hati kami”. BqNurlela mendoakan, “semoga pak direktur sehat selalu”, sementara MawaR1 melontarkan kritik, “terlalu kejam bupati lotim pada orang yg berjuang untuknya, karma menanti”.

IRONI DI BALIK PERGANTIAN.

Ketika sebagian tenaga kesehatan di Selong mengungkapkan kehilangan, muncul kabar bahwa sebagian staf RSUD Lombok Timur justru mengharapkan pergantian kepemimpinan. Seorang tokoh masyarakat melontarkan kritik dalam bahasa Sasak:

“Aro bupati ndekn kulu, wah jelas direktur Ofan tie leman lek Keruak sampe Labuan Haji loek masalah, nani malah pinakn jari direktur lek rumah sakit Selong, sere ne ore lek rumah sakit Selong nani jak”.

Sejumlah staf yang meminta identitasnya dirahasiakan bahkan berujar, “Kami potong kambing, Pak, kalau dr. Ofan diganti.” Pernyataan tersebut belum mewakili seluruh staf, tetapi memunculkan pertanyaan serius: mengapa ada yang merasa kehilangan, sementara pihak lain dikabarkan justru menanti pergantian?

Sejumlah tokoh politik menyebut Anjasmoro sebagai “Purbaya versi Lombok Timur”, julukan yang mencerminkan cara pergantian yang direktur yang tidak beradab. Di tengah polemik, muncul pula kecurigaan mengenai kemungkinan pertimbangan nonprofesional dalam pengisian jabatan. Namun, dugaan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai fakta tanpa bukti yang dapat diuji.

BUPATI HARUS MENJELASKAN.

Ofan, yang sebelumnya menjabat Direktur UPTD RSUD Lombok Timur, kini mendapat penugasan tambahan sebagai Plt Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong. Bupati Lombok Timur dituntut membuka dasar evaluasi Anjasmoro, indikator kinerja yang digunakan, serta pertimbangan objektif di balik penunjukan Ofan.

Seorang tokoh sekaligus tim sukses SMART yang meminta identitasnya dirahasiakan memperingatkan, “Sikap arogan bupati lotim sepertinya akan menjadi beban di pilkada mendatang”.

Jabatan direktur rumah sakit bukan sekadar kursi kekuasaan. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan tenaga kesehatan dan mutu pelayanan kepada masyarakat. Jika pergantian ini memang berdasarkan evaluasi objektif, bupati harus berani menjelaskannya. Sebab, ketika pengabdian berakhir dengan tanda tanya, publik berhak menuntut jawaban, bukan sekadar menerima keputusan.

(Tim Redaksi)

error: Upss, Janganlah dicopy bang ;-)