SUMBAWA, infoaktualnews.com – Di tengah suasana khidmat bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa tetap menjadi prioritas utama. Direktur Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa, dr. Mega Harta, menegaskan bahwa seluruh layanan rumah sakit berjalan normal seperti hari-hari biasa.
Komitmen tersebut menjadi kabar menenangkan bagi masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan selama bulan puasa. Di saat sebagian instansi menyesuaikan jam kerja, RSUD Sumbawa memastikan pelayanan medis tidak mengalami gangguan. Para dokter spesialis tetap disiagakan, tenaga medis tetap bertugas sesuai jadwal, dan fasilitas pelayanan kesehatan terus beroperasi optimal.
“Intinya, pelayanan berjalan normal di RSUD,” tegas dr. Mega Harta.
Menurutnya, kebutuhan layanan kesehatan tidak mengenal waktu, termasuk di bulan Ramadhan. Karena itu, pihak rumah sakit memastikan seluruh unit strategis tetap aktif, terutama layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang beroperasi 24 jam penuh. IGD menjadi garda terdepan dalam menangani kondisi darurat masyarakat, baik kecelakaan, penyakit mendadak, maupun kasus-kasus kritis lainnya.
Meski demikian, menjelang libur bersama Hari Raya Idul Fitri 1447 H, pelayanan Poli Klinik akan menyesuaikan jadwal dan diliburkan sementara. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari penyesuaian hari libur nasional. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, sebab pelayanan kegawatdaruratan tetap berjalan seperti biasa tanpa henti.
Langkah ini menunjukkan komitmen kuat RSUD Sumbawa dalam menjaga kualitas pelayanan kesehatan, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Di tengah suasana spiritual Ramadhan, pelayanan kesehatan yang prima menjadi bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat.
Harapan Besar pada RSUD Sumbawa di Sering
Di balik pelayanan yang terus berjalan, ada harapan besar yang tengah diperjuangkan. Dr. Mega Harta juga menyampaikan perkembangan pembangunan RSUD Sumbawa yang berlokasi di Sering. Proyek strategis ini diharapkan menjadi tonggak peningkatan kualitas layanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa.
Namun demikian, untuk merampungkan pembangunan hingga tahap akhir termasuk penataan landscape, RSUD Sumbawa masih membutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp130 miliar. Angka ini bukan sekadar nominal, melainkan investasi besar bagi masa depan pelayanan kesehatan masyarakat Sumbawa.
Baru-baru ini, dr. Mega Harta telah melakukan koordinasi langsung dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia guna membahas dukungan dan bantuan bagi penyelesaian pembangunan RSUD di Sering. Proses tersebut kini telah masuk tahap desk di Kementerian Kesehatan dan tengah menunggu diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) sebagai dasar realisasi anggaran.
“Kami berharap bantuan dari Kementerian Kesehatan RI bisa terealisasi sehingga RSUD Sumbawa di Sering rampung secara keseluruhan,” ujarnya penuh harap.
Apabila pembangunan ini selesai, RSUD Sumbawa di Sering diyakini akan menjadi pusat layanan kesehatan yang lebih representatif, modern, dan mampu menjawab tantangan kebutuhan medis masyarakat yang terus berkembang. Fasilitas yang lebih lengkap, ruang pelayanan yang lebih luas, serta sarana pendukung yang memadai akan menjadi lompatan besar bagi sektor kesehatan di daerah.
Komitmen untuk Pelayanan Terbaik
Di tengah tantangan anggaran dan dinamika pembangunan, satu hal yang tetap menjadi pegangan adalah komitmen pelayanan. RSUD Sumbawa menunjukkan bahwa pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama, baik dalam kondisi normal, bulan Ramadhan, maupun menjelang hari besar keagamaan.
Kini, perhatian publik tertuju pada upaya percepatan penyelesaian RSUD di Sering. Dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan menjadi harapan besar agar pembangunan dapat segera tuntas dan manfaatnya dirasakan seluruh masyarakat Sumbawa.
Pelayanan berjalan, pembangunan diperjuangkan, dan harapan terus dinyalakan. Masyarakat Sumbawa patut mengawal dan mendukung langkah ini demi terwujudnya layanan kesehatan yang semakin berkualitas, merata, dan berkeadilan di Bumi Sabalong Samalewa. (*)












