Sumbawa, infoaktualnews.com – Program Sumbawa Hijau Lestari yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah memasuki 11 putaran penanaman sejak Desember 2025 hingga Januari 2026. Ribuan bibit pohon telah ditanam di berbagai kecamatan sebagai upaya memulihkan lahan gundul. Namun, di tengah masifnya penghijauan, pemerintah masih menghadapi ancaman penanaman jagung di area rehabilitasi serta kerusakan tanaman akibat ternak liar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa, Pipin Shakti Bitongo, menegaskan keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, tetapi dari sejauh mana tanaman itu mampu tumbuh dan bertahan.
“Setiap kegiatan perlu ada perencanaan yang matang sehingga dalam pelaksanaan nanti benar-benar sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hasil kegiatan itu juga perlu evaluasi dan monitoring lanjutan,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (12/05).
Menurut Pipin, pengawasan pasca tanam kini menjadi fokus utama. Sebab, pada sejumlah titik penghijauan masih ditemukan aktivitas penanaman jagung di sekitar kawasan yang seharusnya dipulihkan.
“Ke depan kita berharap agar titik-titik lokasi yang dilakukan penghijauan tidak ada lagi yang menanam jagung. Ini penekanan yang perlu kita lakukan, apalagi sudah dikuatkan dengan surat edaran Bupati Sumbawa,” katanya.
Selain persoalan alih fungsi lahan, ancaman lain datang dari ternak yang dilepas bebas dan berpotensi merusak bibit yang baru ditanam. Karena itu, pemerintah daerah mendorong percepatan pemagaran di sejumlah lokasi prioritas.
Dua titik yang direncanakan dipagar yakni Kapas Sari seluas 32 hektare serta wilayah Utan di atas Bendungan Beringin Sila seluas kurang lebih 45 hektare. Kebutuhan anggarannya akan dibahas bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk selanjutnya diusulkan melalui direktif bupati.
Di sisi lain, dukungan bibit untuk program ini juga tergolong besar. Melalui APBD Kabupaten Sumbawa, DLH menyiapkan 400 ribu bibit sengon dengan spesifikasi tinggi 10–15 sentimeter dan harga satuan Rp2.000. Selain itu, tersedia 114.285 bibit kemiri dengan harga satuan Rp3.500.
Pelaksanaan penghijauan dimulai pada putaran pertama, 16 Desember 2025, di Kecamatan Utan tepatnya Beringin Sila dengan 5.000 bibit kemiri. Pada hari yang sama, penanaman juga dilakukan di Kecamatan Moyo Hilir, Kampung Banjir, sebanyak 4.760 bibit sengon, serta di kawasan Pacuan Kuda dengan 200 bibit jambu kristal dan 300 bibit mangga.
Putaran kedua berlangsung di Kecamatan Empang, Bendungan Gapit, dengan 5.000 bibit kemiri. Putaran ketiga digelar di Kecamatan Lantung dengan jumlah yang sama. Putaran keempat dilaksanakan di Kecamatan Lenangguar, Desa Lenangguar, menggunakan bibit bantuan BPDAS.
Memasuki Januari 2026, program berlanjut ke Kecamatan Lunyuk, Desa Emang Lestari, dengan penanaman 800 bibit kemiri dan 500 bibit sengon. Di Kecamatan Moyo Hilir, gerakan satu siswa satu pohon di SDN Karang Jati menanam masing-masing 1.000 bibit sengon dan 1.000 bibit kemiri.
Penghijauan berikutnya dilakukan di Kecamatan Orong Telu, Desa Kelawis, dengan 4.000 bibit sengon dan 4.000 bibit kemiri, lalu di Kecamatan Batu Lanteh, Desa Tepal, masing-masing 1.000 bibit kemiri dan 1.000 bibit sengon.
Program kemudian berlanjut ke Kecamatan Moyo Utara, Desa Pungkit, menggunakan bibit dari Dinas Pertanian. Selanjutnya di Kecamatan Plampang, Desa SP 2 Prode, ditanam 17.500 bibit sengon. Putaran kesebelas ditutup di Kecamatan Tarano, Desa Mata, juga dengan dukungan bibit dari Dinas Pertanian.
Pipin berharap seluruh bibit yang telah ditanam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar tumbuh dan memberi dampak bagi lingkungan.
“Semoga program ini berjalan dengan baik, terutama monitoring pasca tanam agar tanaman yang telah ditanam bisa tumbuh dan kembali menghijaukan lahan-lahan yang telah gundul di Kabupaten Sumbawa,” pungkasnya.
Bagi pemerintah daerah, tantangan sesungguhnya kini bukan lagi menanam pohon, melainkan memastikan pohon-pohon itu hidup dan mengembalikan hijau Sumbawa. (*)












