InfoaktualNews.com || LOMBOK TIMUR — Pergantian Plt. Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong di tengah persiapan layanan Catheterization Laboratory (Cathlab) memunculkan pertanyaan serius: siapa yang merintis, siapa yang bekerja mempersiapkan, dan siapa yang akhirnya tampil menikmati sorotan?
Persiapan layanan Cathlab telah dimulai sekitar 7 September 2026 di bawah koordinasi Plt. Direktur saat itu, dr. Anjasmoro, Sp.Rad. Pendampingan RSUD Provinsi NTB yang semula dijadwalkan pada 10–11 Oktober kemudian diundur menjadi 23–24 Oktober karena kesiapan pasien, alat kesehatan, bahan medis, serta sejumlah kebutuhan penunjang belum mencukupi. Pemantapan bersama BPJS Kesehatan juga dilakukan sebelum agenda pendampingan.
Namun, pada 14 Oktober 2026, dr. Anjasmoro digantikan oleh dr. H. Lalu Ofan Hendardi, M.Kes. Selanjutnya, dalam monitoring dan evaluasi pada 20 Oktober, kesiapan Cathlab disebut telah mencapai 98 persen. Ketika pendampingan berlangsung pada 23 Oktober, dr. Ofan tampil sebagai Plt. Direktur.
Ironisnya, berdasarkan informasi yang dihimpun, kontribusi dr. Anjasmoro dalam merintis dan mempersiapkan layanan tersebut justru tidak disinggung dalam sambutan maupun konferensi pers. Pelibatannya dalam agenda pendampingan pun dinilai tidak maksimal.
Di sinilah polemik dugaan pencitraan mulai mengemuka. Jika proses panjang yang telah dirintis sebelumnya justru tenggelam ketika capaian diumumkan, publik tentu berhak mempertanyakan: apakah yang sedang dibangun adalah keberhasilan institusi atau sekadar citra kepemimpinan figur yang baru tampil?
Jabatan boleh berganti, tetapi sejarah kerja tidak semestinya dihapus. Dalam prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, kepemimpinan bukan kompetisi memperebutkan panggung dan popularitas, melainkan kemampuan menjaga kesinambungan program, menghargai kontribusi kolektif, serta mempertanggungjawabkan setiap capaian secara transparan.
Tidak disebutkannya nama pendahulu memang bukan bukti otomatis adanya pencitraan. Namun, dugaan minimnya pelibatan dr. Anjasmoro tetap membutuhkan penjelasan, terlebih yang bersangkutan masih menjabat sebagai Wakil Direktur definitif RSUD dr. R. Soedjono Selong.
“RANGKAP TANGGUNG JAWAB, JANGAN SAMPAI JADI PANGGUNG PENCITRAAN”
Sorotan semakin relevan mengingat dr. Ofan Hendardi tidak hanya menjabat sebagai Plt. Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong tipe B, tetapi juga masih memegang jabatan Direktur definitif RSUD Lombok Timur tipe D.
Persoalannya, rumah sakit yang dipimpinnya secara definitif tersebut juga tengah menghadapi berbagai persoalan kompleks, mulai dari tata kelola manajemen, keluhan pelayanan, hingga sorotan kasus kematian pasien yang dikaitkan dengan dugaan keterlambatan rujukan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai prioritas dan fokus kepemimpinan. Jangan sampai penugasan sebagai Plt. Direktur di RSUD dr. R. Soedjono Selong yang masa jabatannya relatif singkat justru menjadi panggung pencitraan, sementara pekerjaan rumah di RSUD Lombok Timur belum mendapatkan penyelesaian yang transparan dan terukur.
Publik tentu tidak membutuhkan pemimpin yang hanya menonjol dalam seremoni dan pemberitaan. Terlebih, membangun citra keberhasilan di satu rumah sakit tidak boleh menjadi alasan untuk mengaburkan persoalan pelayanan dan tata kelola di rumah sakit lain yang berada di bawah tanggung jawab definitifnya.
“JANGAN HANYA JUAL ANGKA 98 PERSEN”
Di sisi lain, klaim kesiapan Cathlab sebesar 98 persen juga patut diuji secara objektif. Seberapa jauh angka tersebut mencerminkan kesiapan operasional, kelengkapan peralatan, kompetensi tenaga medis, standar keselamatan pasien, serta keberlanjutan pelayanan?
Cathlab bukan panggung pribadi seorang Plt. Direktur. Layanan ini merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak dan menggunakan sumber daya publik. Jangan sampai keberhasilan institusi dikemas sebagai keberhasilan personal, sementara kontribusi pihak yang lebih dahulu bekerja luput dari pengakuan.
Dr. Ofan Hendardi perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai proses persiapan Cathlab, dasar penetapan capaian kesiapan 98 persen, serta bagaimana ia membagi fokus dan tanggung jawab di dua rumah sakit yang dipimpinnya.
Sebab, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan seberapa sering namanya muncul dalam pemberitaan atau seberapa menonjol penampilannya dalam seremoni, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat, seberapa baik pelayanan diberikan, dan seberapa berani ia mempertanggungjawabkan persoalan di bawah kewenangannya.
Jangan sibuk membangun panggung keberhasilan di rumah sakit yang baru dipimpin sementara persoalan di rumah sakit yang dipimpin secara definitif masih menumpuk. Jangan sampai yang lebih dahulu membangun justru tersisih dari panggung, sementara yang datang belakangan paling menonjol menerima sorotan.
Publik tidak membutuhkan panggung pencitraan, apalagi sekadar angka kesiapan dan seremoni keberhasilan. Publik membutuhkan kepemimpinan yang jujur, tata kelola yang akuntabel, dan pelayanan kesehatan yang benar-benar menyelamatkan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
laporan : Tim











